Amp en Blogger

KEHIDUPAN YANG SENANG ATAUPUN SUSAH ADALAH UJIAN

Advertisemen 300x250



Sungguh setiap hamba pasti akan mendapat ujian atau cobaan. Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya : 

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang orang yang benar  dan pasti mengetahui orang orag yang dusta. (Q.S al Ankabut 2-3).

Kalau kita perhatikan ternyata kebanyakan manusia mengira bahwa ujian atau cobaan itu hanyalah berbentuk kesempitan, kekurangan harta, penyakit dan selainnya yang tidak menyenangkan. Ini adalah perkiraan yang keliru, tidak tepat.

Sungguh kehidupan yang senang dan susah, dua duanya adalah ujian. Kebaikan yang didapat ataupun keburukan keduanya juga ujian. Berhasil ataupun gagal, keduanya juga ujian.

Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan hal ini. Diantaranya adalah dalam firman-Nya :

Pertama : Dalam surat al Anbiya ayat 35.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.                                                                                
Ibnu Jarir menukil bahwa Ibnu Abbas berkata : Kami (Allah Ta’ala) akan menguji kalian dengan kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan. Dengan sesuatu yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan petunjuk dan kesesatan.

Juga dalam riwayat yang lain dari Ibnu Abbas  dikatakan : Dengan kelapangan dan kesempitan, yang kedua duanya adalah ujian.

Ibnu Zaid berkata : Kami akan menguji mereka dengan sesuatu yang mereka sukai dan mereka benci. Kami akan menguji mereka dengan semua itu untuk mengetahui tingkat kesyukuran mereka terhadap hal hal yang mereka cintai dan tingkat kesabaran mereka terhadap hal hal yang mereka benci. (Tafsir Ibnu Jarir at Thabari).

Tentang ayat ini Syaikh as Sa’di berkata : Akan tetapi Allah menciptakan para hamba-Nya di dunia untuk diperintah dan dibatasi dengan larangan. Serta untuk menguji mereka dengan takdir yang baik ataupun yang buruk, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan kemuliaan dan kehinaan, dengan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian dari Allah Ta’ala. (Tafsir Karimir Rahman).

Syaikh as Sa’di dalam hal ini   mengutip firman Allah : “Linabluwahum aiyuhum ahsanu amalaa”. Supaya Kami menguji mereka siapakah yang paling baik amalannya (Q.S al Kahfi 7).  Lihat Tafsir Karimir Rahman.

Kedua : Dalam surat al A’raf 168.
Allah berfirman : 

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik baik dan (bencana) yang buruk buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Tentang ayat ini, Imam Ibnu Jarir berkata : Kami akan menguji mereka berupa kelapangan dalam hidup, kemewahan di dunia, keleluasaan dan kelapangan rezki. Semua itu adalah kenikmatan yang baik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subahanhu wa Ta’ala  tersebut diatas. Sedangkan maksud hal hal yang buruk adalah kesempitan dan kesengsaraan dalam hidup, musibah dan kekurangan harta. 

Tentang ayat ini pula, Imam Ibnu Katsir berkata : Maksud dari ayat diatas adalah Kami akan menguji mereka dengan kelapangan dan kesempitan, kesenangan dan kebencian serta kesehatan dan musibah. (Tafsir Ibnu Katsir).  
   
Jadi sesungguhnya orang beriman itu pasti akan di uji dan ujian itu tidaklah  hanya berupa keburukan tapi ujian itu bisa  pula berupa kebaikan. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya : 

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S al Hadiid 23).

Oleh karena itu maka ketika diuji dengan kebaikan orang beriman haruslah bersyukur dan ketika diuji dengan keburukan  haruslah bersabar. Ketahuilah bahwa berapa banyak orang yang ketika diuji dengan kesusahan dia lulus tapi sering gagal ketika diuji dengan kesenangan.
 
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. 
Advertisemen 336x280

Read Also:

Related Posts
Disqus Comments