CARA MENJAGA PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM



Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa orang beriman itu bersaudara yaitu sebagaimana firman-Nya :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang beriman tu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S al Hujurat 10).

Syaikh as Sa’di berkata : “Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara”. Ini adalah perjanjian yang dituinaikan Allah Ta’ala di antara sesama orang beriman. Siapapun orangnya yang berada di belahan timur  bumi ataupun barat yang beriman kepada Allah Ta’ala, Malaikat, kitab kitab, rasul rasul-Nya serta beriman kepada Hari Akhir maka dia adalah saudara orang yang beriman lainnya.

Persaudaraan yang mengharuskan orang orang mencintai saudaranya sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri serta tidak menyukai apapun yang mengenainya sebagaimana diri mereka sendiri tidak suka terkena hal itu. (Ini sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim no. 1728). Lihat Tafsir Taisir Karimir Rahman.
Ketahuilah bahwa kekuatan kaum muslimin ada pada ikatan persaudaraan yang kuat dan persatuan yang kokoh diatas petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ  

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai. (Q.S Ali Imran 103).

Rasulullah, juga dengan sangat jelas menyebutkan bagaimana seharusnya keadaan persaudaraan sesama orang beriman. Dari Abu Musa, dari Nabi Salallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda :

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

Orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan.’ Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Dalam hadits an Nu’man bin Basyir_radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
 »
Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya). (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu menjadi kewajiban penting bagi orang orang beriman untuk selalu memelihara persaudaraan diantara mereka agar mereka tetap kuat dan kokoh. Apalagi pada akhir zaman ini musuh musuh Islam dari kalangan kafir, musyrik dan munafik akan terus berusaha memadamkan cahaya Islam ini.

Ketahuilah bahwa ada beberapa cara yang sangat penting untuk dilakukan orang beriman untuk mengokohkan persaudaraannya, diantaranya adalah : 

Pertama : Saling tolong menolong dalam kebaikan.
Rasulullah bersabda : Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Manistatha’a minkum an yanfa’a akhaahu fal yanfa’hu.Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberikan manfaat bagi saudaranya hendaklah dia melakukannya. (H.R Imam Muslim, dari Jabir). 

Sungguh sikap saling tolong menolong dan saling memberi manfaat akan mendatangkan persaudaraan yang kokoh. Oleh karena itu maka setiap orang beriman berkewajiban saling tolong menolong satu sama lain terutama jika menghadapi kesulitan baik urusan dunia maupun urusan akhirat. Allah berfirman :

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah sangat berat  siksa-Nya. (Q.S al Maidah 2).

Kedua : Saling menutup aib dan menjaga kehormatan.
Jika seseorang tak menjaga kehormatan dan senang membuka aib saudaranya ini adalah sumber perpecahan diantara mereka. Oleh karena itu salah satu cara memelihara persaudaraan sesame orang beriman adalah dengan menutup aib saudaranya .

Rasulullah bersabda : 

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat.Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba (yang) selalu ia menolong saudaranya. (H.R at Tirmidzi)

Sebaliknya, siapa yang mengumbar aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya. Rasulullah bersabda :

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya walau ia di dalam rumahnya.” (H.R. Ibnu Majah).

Termasuk pula membuka aib saudara sesama muslim, menggunjingnya atau bahkan memfitnahnya, hanyalah akan menghilangkan pahala amal dan merusak persaudaraan diantara mereka.

Bahkan ketika seorang beriman melihat aib saudaranya maka sangatlah dianjurkan untuk menasehatinya  karena seseorang bagaikan  cermin bagi yang lainnya. Seperti disebutkan di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (H.R Imam Bukhari)

Termasuk pula dalam hal ini adalah menjaga kehormatan saudara sesama muslim. Dalam potongan sebuah hadits yang cukup panjang antara lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda : 

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampas) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (H.R Imam Bukhari).

Ibnu Umar radhiallahu’anhuma menganggap bahwa tiga perkara ini; menjaga darah, kehormatan dan harta kaum Muslimin sebagai sebuah tingkat kepahaman ilmu yang besar. Barangsiapa yang diberi taufik untuk memahami hal ini, sungguh ia telah memperoleh kebaikan yang besar. (Dinukil dari al badr.net).

Ketiga : Saling memaafkan ketika tersakiti.
Dalam bergaul dengan sesama saudara bisa jadi, suatu waktu, kita diperlakukan tidak baik, dizhalimi dan yang lainnya, Dalam perkara ini hendaklah seorang hamba suka memaafkan saudaranya.

Sikap suka memaafkan sangatlah terpuji dalam syariat Islam. Bahkan suka memaafkan merupakan salah satu sikap orang bertakwa. Allah berfirman : 

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Dan orang yang bertakwa yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S Ali Imran 134)

Ketahuilah bahwa orang yang suka memaafkan saudaranya akan memperoleh kebaikan yang banyak. Pahalanya dijamin oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat buruk) maka pahalanya dari Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang orang yang zhalim. (Q.S asy Syura 40).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Hendaklah setiap orang memiliki sifat mudah memaafkan yang lain. Tidak semua isu yang sampai ke telinganya ia terima mentah mentah. Lantas dia membenci orang yang menyuarakan isu yang tidak menyenangkan itu.  

Hendaklah setiap orang memiliki sifat pemaaf. Karena Allah Ta’ala sangat menyukai orang yang memiliki sikap mulia tersebut, yang mudah memaafkan orang lain. Lantaran itu, ia akan diberi ganjaran. Karen ajika dibalas dengan saling mempermalukan dan menjatuhkan pasti konflik yang terjadi tak kunjung usai. Permusuhan akan tetap ada. Jika dibalas dengan diam, rampunglah perselisihan yang sedang berkecamuk. (Syarh Riyadhus Shalihin)

Ketahuilah bahwa puncak keutamaan dari sikap suka memaafkan manusia adalah memperoleh ampunan Allah Ta’ala.Allah berfirman : 

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak menginginkan Allah mengampunimu dan Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. (Q.S an Nur 22)

Dalam kitab Tafsir al Muyassar, tahqiq Syaikh Bakar Abu Zaid antara dijelaskan bahwa : Ayat ini turun berkenaan dengan sumpah Abu Bakar ash Shiddiq bahwa dia tidak akan memberi apa apa lagi (tidak membantu lagi, pen.) kepada kerabatnya (diantaranya adalah Misthah bin Utsasah) ataupun orang lain (karena kesalahan mereka, pen.) yang terlibat dalam menyiarkan dan menyebarkan berita bohong tentang fitnah yang keji yang ditujukan kepada Aisyah putri beliau. Maka turunlah ayat ini, melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu, menyuruh berlapang dada terhadap mereka.

Keempat : Saling memenuhi kewajiban.
Satu perkara yang perlu pula diperhatikan oleh seorang muslim agar persaudaraan sesama mereka bisa terpelihara adalah saling memenuhi hak dan kewajiban diantara sesama muslim.

Rasulullah bersabda : 

 حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ  وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ  وَإِذاَ مَاتَ فَاتْـبَعْهُ

Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam yaitu : (1) Jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam. (2) Jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya. (3) Jika ia meminta nasehat kepadamu maka berilah ia nasehat. (4) Jika ia bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah” maka doakanlah ia dengan “yarhamukallah”. (5) Jika ia sakit maka jenguklah, dan (6) Jika ia meninggal dunia maka iiringilah jenazahnya. (H.R Muslim no. 2162) 

Kelima : Saling mendoakan
Jika hamba hamba Allah selalu saling mendoakan maka akan terjalin persaudaraan diantara mereka karena sama sama menginginkan kebaikan bagi saudaranya. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan untuk saling mendoakan sesama muslim. Saling mendoakan ketika bertemu bahkan juga sangat baik dilakukan  tidak dihadapannya.

Dari Shafwan bin Abdillah bin Shafwan Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Saat aku datang ke Syam, aku mendatangi Abu Darda’ di rumahnya. Namun aku tidak bertemu dengannya. Aku bertemu dengan Ummu Darda’. Ia bertanya (kepadaku), ‘Apakah kamu mau haji?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Ia berkata kepadamu : Doakan untuk kami kebaikan, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata : Aamiin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.” (HR. Muslim)

Rasulullah bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Tidak ada seorang hamba pun yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata kepadanya : Dan bagimu seperti apa yang kamu minta. (H.R Imam Muslim)

Keenam : Menolong orang muslim ketika dizhalimi ataupun berbuat zhalim.
Diantara cara untuk memelihara parsaudaraan sesama muslim adalah menolong saudara yang dizhalimi dan juga yang menzhalimi Dalam hal ini adalah : (1) Menolongnya ketika dia dizhalimi yakni dengan membelanya hingga ia mendapatkan haknya. (2) Menolongnya ketika ia berbuat zhalim adalah dengan mencegahnya dari melakukan perbuatan zhalim serta mengembalikannya kepada kebenaran.

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi. 

فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ »

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zhalim ?

Beliau menjawab : Kamu cegah dia dari berbuat zhalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Demikianlah sebagian cara yang bisa dilakukan oleh seorang muslim untuk tetap bisa memelihara persaudaraan sesama muslim. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'’am. 

0 Response to "CARA MENJAGA PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel